Minggu, 11 Mei 2014

Babi Hutan dan Rubah

Aesop


Sang Rubah mengolok-olok babi hutan yang sedang mengasah taringnyaSeekor babi hutan sedang sibuk mengasah taringnya pada sebuah batang pohon. Bertepatan dengan saat itu, secara kebetulan lewatlah seekor rubah. Rubah yang suka mengolok-olok teman-teman dan tetangganya, langsung mengoloknya dengan berpura-pura melihat kesana-kemari, seolah-olah takut pada musuh yang tidak terlihat. Tetapi sang Babi Hutan tidak memperdulikan tingkah sang Rubah dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Mengapa engkau melakukan hal tersebut?" kata sang Rubah dengan senyum mengejek. "Saya tidak melihat ada musuh dan bahaya di sini."
"Kamu benar, memang sekarang tidak ada musuh dan bahaya yang mengancam" jawab sang Babi Hutan, "tetapi ketika musuh benar-benar datang, saya tidak akan sempat mengasah taring saya lagi seperti sekarang. Saat musuh dan bahaya datang ke sini nantinya, setidak-tidaknya saya telah memiliki senjata untuk menghadapinya."
Selalulah siap siaga dan waspada.

Rubah dan Burung Gagak


Ruban dan burung gagakDi suatu pagi yang cerah, seekor rubah mengendus-endus dengan penciumannya yang tajam ke seluruh penjuru hutan dengan tujuan mencari sesuatu untuk dimakan, dia melihat seekor burung gagak yg bertengger pada dahan pohon di depannya. Gagak tersebut bukanlah merupakan gagak yang pertama kali dilihat oleh sang Rubah. Yang menjadi perhatian utama sang Rubah dan membuatnya menoleh, adalah Gagak tersebut memegang sedikit keju di paruhnya.
"Tidak perlu mencari lebih jauh lagi," pikir sang Rubah. "Di sini bisa saya dapatkan makan pagi ku."
Sang Rubah lalu berjalan mendekati pohon dimana sang Gagak bertengger, melihat ke atas dengan pandangan kagum, lalu berteriak, "Selamat pagi mahluk yang cantik!"Burung gagak, sambil memiringkan kepalanya ke samping, memandangi sang Rubah dengan curiga, sembari tetap menutup rapat paruhnya dan tidak membalas salam sang Rubah.
"Sungguh mahluk yang mengagumkan!" kata sang Rubah. "Bagaimana bulunya bersinar! Sungguh indah dan mengagumkan sayapnya! Burung yang secantik ini seharusnya memiliki suara yang sangat merdu, karena segala sesuatu tentang dia sangatlah sempurna. Seandainya dia bisa menyanyikan satu lagu, saya pasti memujanya sebagai ratu dan segala burung."
Mendengar semua kata-kata pujian, sang Gagak lupa akan segala kecurigaannya dan juga keju yang dipegang di paruhnya. Dia sangat ingin disebut sebagai ratu dari segala burung.
Dia lalu membuka paruhnya lebar-lebar untuk mengeluarkan kicauannya yang terkeras, dan saat itu jatuhlah keju dari paruhnya langsung menuju mulut rubah yang terbuka.
"Terima kasih," kata sang Rubah dengan manisnya sambil berjalan pergi. "Walaupun serak, kamu pasti memiliki suara. Tetapi di manakah otakmu?"


Siapapun yang senang mendengarkan pujian palsu, tidaklah bijaksana, karena tidak membawa hal-hal yang menguntungkan.

Serigala Berbulu Domba


Serigala menyusup ke kawanan domba dengan memakai kulit dombaSeekor serigala, tidak pernah mendapatkan makanan yang cukup karena penggembala domba selalu mengawasi domba-dombanya dengan teliti. Hingga suatu malam, serigala tersebut menemukan sebuah kulit domba yang dibuang di jalan. Hari berikutnya, dengan memakai kulit dan bulu domba, sang Serigala menyusup masuk ke kawanan domba dan dengan mudahnya dia bisa memangsa domba yang masih kecil.
Pada malam harinya, sang Serigala ikut bersama kawanan domba untuk masuk ke dalam kandang. Tetapi saat sang Gembala menggiring dombanya untuk masuk, dia menyadari bahwa ada seekor serigala yang menyusup masuk dengan memakai kulit dan bulu domba. Saat itulah sang Serigala menerima ajalnya di tangan sang Gembala.
Orang yang berbuat jahat pasti akan ketahuan dan menerima hukuman.

Rubah yang Tubuhnya Lecet dan Seekor Landak

Aesop


Landak berbaik hati menawarkan diri untuk mengusir lalat dari tubuh sang RubahSeekor rubah yang berenang mengarungi sungai, dengan susah payah akhirnya tiba di pinggiran sungai, di mana dia kemudian berbaring di sana karena capai berenang melawan arus. Tubuhnya pun penuh dengan luka-luka lecet karena tergores oleh batu-batu sungai yang tajam-tajam. Tidak berapa lama, beberapa ekor lalat hinggap pada luka-lukanya, tetapi sang Rubah hanya berdiam diri saja karena terlalu lemah dan tidak mampu untuk mengusir lalat itu pergi.
Seekor landak yang kebetulan melihatnya, berkata, "Saya akan membantu kamu untuk mengusir lalat itu,"
"Jangan, jangan...!" teriak sang Rubah, "jangan ganggu mereka! Mereka telah hinggap dan mengambil semua yang mereka mampu ambil. Jika kamu mengusir mereka pergi, lalat-lalat rakus yang lain akan datang lagi dan hinggap kembali ke luka di tubuhku."
Lebih baik menderita sedikit, daripada menderita lebih banyak karena berusaha menghilangkan derita tersebut.


Monyet dan Unta Peniru


Sang Unta menari mengikuti tarian sang MonyetPada suatu perayaan besar untuk menghormati sang Singa si Raja Hutan, seekor monyet diminta untuk menari di depan hewan yang hadir pada perayaan itu. Tarian sang Monyet begitu indahnya sehingga semua hewan yang hadir menjadi senang dan gembira melihatnya.
Pujian yang didapatkan oleh sang Monyet membuat seekor unta yang hadir menjadi iri hati. Dia sangat yakin bahwa ia bisa menari seindah tarian sang monyet, bahkan mungkin lebih baik lagi, karena itu dia maju ke depan menerobos kerumunan hewan yang menonton tarian monyet, dan sang Unta mengangkat kaki depannya, mulai menari. Tapi unta yang sangat besar itu membuat dirinya kelihatan konyol saat menendang-nendangkan kakinya ke depan dan memutar-mutarkan lehernya yang kaku dan panjang. Selain itu, sang unta sulit untuk menjaga agar tapak kakinya yang besar tetap terangkat ke atas.
Akhirnya, salah satu tapak kakinya yang besar hampir mengenai hidung sang Raja Hutan sehingga hewan-hewan yang jengkel melihat tingkah sang Unta, mengusirnya keluar sampai ke padang gurun.
Jangan terlalu memaksa untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dapat kamu lakukan.

Singa dan Lebah Pengganggu


"Pergilah dari sini, serangga pengganggu!" kata seekor Singa dengan marah pada seekor Lebah yang terbang berputar-putar di sekeliling kepalanya. Tetapi Lebah itu tidak memperdulikan kemarahan sang Singa.
"Apakah kamu pikir saya takut kepada kamu yang disebut sebagai Raja Hutan?" kata sang Lebah dengan mencemoh.
Singa memandangi lebah yang terperangkap pada jaring laba-labaSang Lebah lalu terbang mendekat ke Singa lalu menyengatnya di hidung. Singa yang marah lalu mencakar dengan keras ke arah sang Lebah tetapi Lebah yang kecil tersebut tidak dapat dilukai oleh sang Singa. Sang Lebah lalu menyengatnya berulang-ulang sehingga sang Singa mengaum keras dengan marah. Akhirnya sang Singa yang sekarang penuh dengan luka-luka kecil bekas sengatan merasa capai, menghentikan perkelahian dan menyerah kalah.
Sang Lebah lalu terbang menjauh untuk memberitakan kemenangannya ke seluruh dunia, tetapi sialnya, dia terbang menuju ke sebuah jaringan laba-laba dan terperangkap disana. Akhirnya, sang Lebah yang telah berhasil mengalahkan singa si Raja Hutan, nasibnya berakhir menjadi mangsa dari laba-laba kecil.
Musuh yang kelihatan kecil kadang merupakan musuh yang paling ditakuti.
Rasa bangga terhadap sesuatu keberhasilan seharusnya tidak membuat kita menjadi lemah.


Kelinci dan Anjing Pemburu


Gembala mengejek sang Anjing yang tidak mampu mengejar sang KelinciSeekor anjing pemburu yang mengejar-ngejar seekor kelinci, dan setelah beberapa lama, sang Anjing menyerah dan menghentikan pengejarannya. Kebetulan kejadian itu disaksikan oleh seorang gembala yang langsung mengejek sang Anjing dan berkata:
"Hewan yang lebih kecil ternyata larinya lebih kencang dibandingkan dengan kamu,"
Sang Anjing menjawab, "Tidakkah kamu melihat perbedaan di antara kami? Saya berlari untuk mendapatkan makanan, sedangkan sang Kelinci berlari untuk mempertahankan hidupnya."